Potensi Kab Keerom
Tim Redaksi Pemprov Papua
POTENSI SUMBERDAYA ALAM KABUPATEN KEEROM
Tanaman Pangan dan Hortikultura
Pada
beberapa lokasi, pertanian tanaman pangan di Kabupaten Keerom masih
dilakukan dengan sistem tradisional sehingga tingkat produktivitas masih
rendah. Akan tetapi pada kawasan-kawasan yang berkembang terutama di
wilayah transmigrasi (Distrik Arso dan Distrik Skanto), budidaya
tanaman pangan dan hortikultura telah dilakukan secara lebih intensif
dan telah menerapkan teknologi budidaya yang modern. Oleh karena itu,
sub-sektor pertanian tanaman pangan dan hortikultura mampu menjadi
kontributor utama dalam perekonomian sektor pertanian maupun
perekonomian wilayah kabupaten. Luas penggunaan lahan untuk tanaman
pangan di Kabupaten Keerom pada Tahun Tahun 2010 mencapai 2.227 ha. Dan
untuk tanaman hortikultura pada tahun yang sama mencapai luas 1.864 ha.
Komoditas yang menonjol peranannya pada sub-sektor tanaman pangan dan
hortikultura adalah Ubi Jalar, Ubi Kayu, dan Padi Sawah. Ketiga
komoditas ini merupakan penyumbang utama bagi produk wilayah Kabupaten.
Produksi ketiga komoditas pada Tahun 2010 berturut-turut adalah 2.714
ton, 2.360 ton dan 1.287 ton.dan 1.190 ton.
Sumber Daya Mineral
Keberadaan
sumberdaya mineral di daerah ini ditafsirkan dari kondisi global dan
peristiwa tektonik, sehingga dengan munculnya batuan interusi seperti
dirit, granodiorit, monzonit dan andesit yang menerobos batuan
sekitarnya, tidak menutup kemungkinan adanya daerah potensi mineralisasi
seperti emas, tembaga dan minerallainya di daerah Amgotro dan Ubrub
bagian selatan. Mineralisasi tembaga dan emas di jalur Pegunungan
Tengah Papua sangat erat hubungannya dengan munculnya intrusi diroit
atau monzonit yang umum terdapat di aljur Papua Ofiolit Belt. Dengan
demikian bagian selatan Kabupaten Keerom, yang banyak dijumpai batuan
intrusi tersebut, sangat berpotensi terdapatnya mineralisasi emas dan
tembaga. Kemunculan batuan ultrabasa, dapat dijadikan sebagai indikasi
batuan sumber dari tersedianya berbagai endapan logam, seperti Nikel,
Mangan,Timah Hitam, Besi dan Kromit serta adanya energi fosil Batubara.
Proses laterisasi yang dihasilkan oleh pelapukan batuan ultra basa yang
berumur Pra Tersier sangat berpotensi untuk menghasilkan endapan
tersebut. Selain potensi mineralisasi emas primer, maka emas sekunder
berupa emas plaser telah telah banyak dilaporkan di temukan di sekitar
Sungai Keerom yang diperkirakan bersumber dari batuan gunung api Auwewa
yang berumur Oligo-Miosen. Bahan bangunan seperti batuan beku diorit,
andesit, gabro, basal, ultrabasa dan batuan sedimen keras lainnya dapat
digunakan sebagai bahan bangunan pondasi, jalan dan sebagainya. Batu
gamping dan batulempung yang banyak terdapat di daerah ini dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku semen.
Kehutanan
Sumber
daya hutan merupakan potensi alam yang paling besar dimiliki Kabupaten
Keerom, dan pada umumnya potensi ini belulm banyak dimanfaatkan.
Sebagian besar Kabupaten Keerom ditutupi oleh hutan, yaitu mencapai luas
942.157,31 ha (88,04% dari luas kabupaten). Pada tahun 2010, sub-sektor
kehutanan mampu menyumbang PDRB Kabupaten Keerom sebesar 8,53 % dan
menempati urutan ketiga dalam sektor pertanian. Perencanaan tata ruang
harus mengalokasikan wilayah lindung dan budidaya hutan secara
proporsional untuk menjamin tercapainya pemanfaatan sumberdaya hutan
secara berkelanjutan. Berdasarkan kajian di lapangan diketahui bahwa
Kabupaten Keerom terdapat 5 macam kawasan hutan yang meliputi Hutan
Lindung (HL), Hutan Produksi (HP), Hutan Produksi Konversi (HPK), Hutan
Produksi Terbatas (HPT), dan kawasan suaka alam. Luas keseluruhan
kawasan hutan tersebut mencapai 841.857 ha (71,51% dari areal berhutan).
Berbagai komoditas yang dapat dikembangkan pada sub-sektor kehutanan
antara lain meliputi yaitu kayu, rotan, dan kulit kayu yang dapat
dioilah menjadi plywood, block-board, veneer, lumber-core, kayu
gergajian dan poliyester. Selain itu dapat pula dikembangkan produk non
kayu seperti madu, plasma nutfah, dan jasa lingkungan hutan lainnya.
Peternakan
Sub
sektor peternakan merupakan salah satu sub sektor yang harus
diperhatikan karena dapat memberikan kontribusi terhadap perekonomian
jika dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. Secara umum populasi
ternak yang ada di Kabupaten Keerom terbagi dalam dua jenis yaitu
populasi ternak besar, ternak kecil, dan unggas. Sapi dan kambing
merupakan populasi ternak tertinggi yang banyak dikembangbiakan di
kabupaten ini, kemudian disusul oleh ternak Babi, sedangkan ternak
unggas yang banyak dikembangbiakkan di Kabupaten Keerom adalah Ayam Ras,
Ayam Buras, Angsa, Itik dan Entok. Populasi Ayam Buras merupakan
populasi terbesar yang dikembangbiakan di Kabupaten Keerom (61.520
ekor). Secara garis besar hal ini disebabkan karena pengusahaannya tidak
terlalu memerlukan penanganan yang rumit.
Perikanan
Berdasarkan
potensi badan air yang ada, pengembangan perikanan dapat dilakukan,
terutama perikanan budidaya, baik pada kolam, empang, maupun jaring
apung atau keramba. Jenis-jenis halis perikanan yang dibudidayakan
antara lain Ikan Mas, Mujair, Nila, Lele Dumbo dan Bawal. Populasi ikan
terbesar yang dibudidayakan adalah Ikan Nila sekitar 32 ton dengan nilai
jual sebesar 720 juta, dan Ikan Mas sekitar 9 ton dengan nilai jual
sebesar 202 juta.
Perkebunan
Perkebunan kelapa
sawit dan kakao merupakan kegiatan perkebunan yang memiliki areal lahan
terluas yaitu lebih dari 47.986,98 ha atau mencapai lebih dari 99% luas
lahan tanaman perkebunan di Kabupaten Keerom. Pada tahun 2010 komoditas
kelapa sawit telah memberikan tanaman panen dengan luas 8.686,98 ha
dengan produksi mencapai 90.588,16 ton, sedangkan kakao seluas 7.000ha
mencapai 9.500 ton. Berdasarkan potensi lahan yang ada, komoditas
perkebunan sangat potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Keerom,
terutama komoditas yang banyak diminta pasar internasional (eksport)
seperti kelapa sawit (CPO) dan Kakao. Disamping itu, komoditas tersebut
mampu menggerakan industri berbasis pertanian (agro industri) dan
menyerap banyak tenaga kerja baik pada on farm maupun off farm.
Berikut ini adalah beberapa investor yang telah menjalankan usahanya di Kabupaten Keerom pada sektor perkebunan :
PTPN II
PTPN
II merupakan pionir dalam pengembangan kelapa sawit di Kabupaten
Keerom, yaitu dimulai sekitar tahun 1983 yang pada saat itu
mengembangkan kelapa sawit bersama-sama dengan para petani transmigram
Pirsus sebagai Plasma dan PTPN II sebagai intinya. Saat ini luas panen
PTPN II Arso setiap bulanya mencapai rata-rata 2.286 Ha dan 1.068 yang
dikolola oleh PT. Bumi Irian Perkasa. Sebagian besar lahan panen
merupakan areal plasma denga luas sekitar 3.600 Ha. Jumlah CPO yang
dihasilkan oleh perkebunan kelapa swit ini berfluktuasi setiap bulanya,
jumlah yang terbesar terjadi pada bulan juni yaitu 1.700,59 Ton.
PT.
Tandan Sawita PapuaPT. Tandan Sawita dapat dikatakan salah satu
investor baru di Kabupaten Keerom. Sesuai SK Gubernur Provinsi Papua No.
7 Tahun 2010 tanggal 24 Januari 2010, PT Tandan Sawita Papua mendapat
areal hutan APL seluas 18.337,90 ha di Distrik Arso Timur Kabupaten
Keerom, untuk kepentingan membangun perkebunan Kelapa Sawit.
Perkembangan pemanfaatan dan pembukaan hutan yang dilakukan :
-Luas areal kerja : 18.337,90 ha
-Luas area Konservasi dll : 4.477,82 ha
-Luas lahan efektif : 13.862 ha